Rabu, 26 September 2012

Ketika Tak lagi Dihargai

Hidup ini memang butuh pengorbanan, dalam keluarga, karir, bahkan persoalan cinta yang seharusnya lebih menyerap kebahagiaan sekalipun membutuhkan pengorbanan yang lebih ekstrim dari segalanya.

Sebagai manusia sejati tentunya saya punya banyak pengalaman juga mengenai hidup dan cinta. Perjalanan cinta yang berlangsung begitu lama membawa hidup saya semakin rumit, tak tau arah dan tujuan, bahkan saya pun tak mengerti mengapa harus demikian. Kadang kita berfikir, cinta sejati adalah cinta yang tak pernah berakhir perjalannya sampai melewati batas waktu yang diperkirakan walaupun tak selamanya berujung kebahagiaan. Namun kenyataanya cinta sejati hanya ada pada keajaiban, dan hanya orang-orang yang beruntunglah yang memilikinya. Bagai mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami, sulit didapat. Setelah menjalani suatu hubungan yang begitu panjang, barulah saya mengerti bahwa waktu bukanlah satu-satunya penentu cinta sejati, melainkan hanya sebagai pengingat bahwa kita harus terus melangkah atau berhenti.

Adakalanya kita harus menjalani hubungan yang begitu panjang terlebih dahulu baru kita tau bahwa dia lah orang yang tepat atau bukan sama sekali. Disitulah mental kita diuji, disaat merasa bahwa kita telah memberikan  segalanya yang terbaik dari diri kita untuk seseorang yang membersamai perjalanan kita selama ini, namun hasil yang didapat adalah sebaliknya. Tidak jarang kebaikan dibalas dengan kejahatan, bertahun-tahun berkorban jiwa dan raga sekalipun tak menjamin kebahagiaan yang diraih. kadang, bukan kebahagiaan saja yang kita mau tapi sikap baik, dan sikap Menghargai lah yang kita inginkan.

Diluar perkiraan bahwa setelah melewati proses panjang dalam suatu hubungan ditahun-tahun terakhirlah dimana semua telah direncanakan bahkan semua rencana telah tersusun rapih, hati ini mengarah pada "Bukan Dia Orangnya". Sedih, kecewa,bingung, bahkan hampir menyesali mengapa baru dirasa setelah semua keputusan diambil. Sering kali terbersit dibenak saya bahwa ini tak bisa diteruskan, namun apa daya upaya saya untuk semua ini, karena rasa tak tega pada orang terdekat yang sudah mengorbankan segalanya untuk semua rencana ini, dan rasanya pun sudah tidak mungkin karena ini hanya tinggal menghitung hari.

Ingin berteriak sekuat-kuatnya, karena rasanya tak sanggup menerima kenyataan bahwa seseorang yang ingin mendapingi saya bersikap tidak baik. Dalam suatu hubungan yang baik dimana seharusnya kita mampu bersikap menerima dan saling menutupi kekurangan dan kelebihan masing-masing, bukan saling menjatuhkan, saling menghina, saling meremehkan, bahkan saling mempermalukan. Sikap itulah yang membuat hati ini hancur, tidak rela mengorbankan hidup hanya untuk orang yang "Salah". Pernikahan yang seharusnya membawa ke dalam kebahagiaan tiba-tiba saja berubah artinya menjadi sebuah pilu. 

Satu hal yang paling mengecewakan bagi saya adalah dimana karir, kedudukan, materi mampu mengubah sikap dan sifat seseorang. Sikap dan sifat yang baik mampu berubah tidak baik hanya karena seseorang merasa kagum dan bangga atas dirinya sendiri, atas apa yang ia peroleh saat itu. Apalagi jika diawal pun memang telah memiliki sifat yang tak baik, dengan dibutakan oleh strata maka akan semakin tidak baik.

Jiwa yang bijak tidak mungkin bersikap arogan, merasa sudah memberikan sesuatu yang lebih maka menuntut hak yang jauh lebih besar dari apa yang sudah ia beri untuk orang lain.
Jiwa yang bijak seharusnya bersahabat dengan keIKHLASan, rasa ikhlas mampu membuktikan seberapa dewasakah seorang manusia. Jika memang kamu merasa ikhlas, maka tidak akan pernah keluar kalimat-kalimat yang bersifat ungkitan. Apa yang sudah menjadi kewajiban maka itulah yang harus dijalani, dan apa yang menjai hak maka itulah yang pantas diterima.

Kawan, ini hanyalah coretan kecil bentuk ungkapan kekecewaan yang pernah saya rasakan dalam suatu hubungan yang terlalu cepat rasanya untuk dikatakan cinta sejati, karena cinta sejati tidak akan pernah saling menyakiti.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar